Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Masyarakat Gelar Istighosah Menyelamatkan Meratus dari Tambang Batu Bara

BANJARMASIN POST.CO.ID, BARABAI – Ratusan warga Hulu Sungai Tengah (HST) gelar istighosah di halaman Masjid Riadhusshalihin.

Dalam acara itu berbagai kalangan berkumpul memanjatkan doa bersama demi menyelamatkan Meratus dari tambang batu bara. Gerakan ini bagian dukungan penolakan tambang batu bara di HST.

Istighosah sebagai bagian dari usaha penyelamatan Meratus, mendapat dukungan Ulama, pimpinan pondok pesantren dan organisasi keagamaan di HST, diantaranya Ketua MUI HST, Pimpinan Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.

Istighosah dan doa bersama dipimpin oleh KH. Mokhtar pengasuh Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih.

Ali Fahmi, ketua pelaksana Istighosah mengatakan, penyelenggaraan acara ini bersifat partisipatif dan tidak ada unsur politis.

“Ini murni gerakan masyarakat yang peduli pada kelangsungan kehidupan di bumi murakata. Mengapa Istighosah, ini adalah langkah yang sesuai dengan ciri masyarakat Kalsel yang damai-menghindari kericuhan aksi massa, ujar Ali Fahmi.

Masyarakat HST mengungkapkan kepedulian pada lingkungan hidup dengan komitmen menolak tambang batu bara di HST, terutama pegunungan Meratus.

Meratus Hulu Barabai, satu-satunya wilayah di Kalsel tanpa tambang batu bara dan perekebunan sawit. Masyarakat dan pemerintah daerahnya tegas menolak kedua industri itu.

Saat ini, tambang batu bara mengancam Meratus, pada. 4 September 2017 Kementerian ESDM menerbitkan SK Nomor 441.K/30/DJB/2017 tentang izin operasi produksi tambang batubara untuk PT. Mantimin Coal Mining di Kabupaten Tabalong, Balangan, dan HST.

“Di HST SK ini mendapat penolakan, ada 37.000 tanda tangan petisi penolakan tambang batubara di HST,” ujar Rumli, koordinator Gerakan Penyelamat Bumi Murakata (GEMBUK) HST.

Rumli yang juga aktif di Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) menambahkan, gerakan sosial masyarakat ini menghendaki Meratus tetap lestari tanpa batubara dan sawit.

Menurut Muhammad Yanni, praktisi lingkungan hidup yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup HST, Meratus merupakan sumber kehidupan bagi banyak jiwa, hutan Meratus memberikan oksigen dan menyediakan air bagi manusia.

Lebih dari 10.000 hektar lahan pertanian di HST airnya bersumber dari hutan Pegunungan Meratus yang merupakan hutan hujan terakhir yang dimiliki Kalsel.

Walhi Kalsel yang juga bagian dari gerakan #SaveMeratus, menempuh jalur hukum menggugat Menteri ESDM dan PT. MCM.

“tuntutan kami izin tambangnya dicabut, Meratus HST harus bebas dati batubara dan sawit” ujar Kisworo Dwi Cahyono, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel.

Kisworo mengatakan gugatan ini adalah gugatan lingkungan. “Saat ini sudah 17 kali sidang, 22 Oktober Majelis Hakim PTUN Jakarta akan membacakan putusan, kami berharap keadilan memihak pada rakyat dan kelestarian Meratus,” ujarnya.

Kisworo juga berharap, gerakan ini semakin luas lintas kalangan dan makin banyak yang mendukung.

Kalah atau menang, dua kemungkinan saat putusan sidang. Jika menang dan Izin tambang dicabut, pemerintah daerah HST harus melaksanakan komitmennya dengan tetap tidak memasukkan tambang batubara dalam penataan ruang wilayahnya. Pemerintah juga harus memberikan akses kelola wilayah kepada masyarakat agar masyarakat ikut menjaga wilayah dan kelestarian hutannya.

“Masyarakat harus diberdayakan, agar tidak ada keinginan untuk menyerahkan lahan ke perusahaan tambang, ujar Juliade, Direktur Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA).

Selain itu, kata Juliade “Jika kalah, maka masih banyak kerja yang harus dilakukan berbagai pihak untuk menyelamatkan Meratus”. (Penulis: Nurholis Huda Editor: Didik Trio)

Sumber Asli Teks dan Foto : Banjarmasinpost.co.id
Terbit Tanggal : 11 Oktober 2018

    0 Comments

    No Comment.